Obrolan singkat selama 4 jam pada hari minggu tanggal 10 Januari 2022, bersama enam teman semasa kuliah menjadi topik utama dari tulisan ini. Bukan alur obrolan kami yang akan kutuliskan, tapi tentang sepenggal perjalanan mereka ditambah bumbu-bumbu penyedap rasa dari opiniku sebagai pelengkapnya wkwkwk. Tujuanku bukan untuk menyalahkan atau membenarkan siapapun. Hanya ingin menjadikannya sebagai hiburan untuk mengisi waktu kosong atau bisa juga menjadi bacaan bermanfaat bagi yang membutuhkan. Kalau ada kata yang kurang berkenan dihati kalian aku minta maaf sebesar-besanya dan kalau ada kata yang benar jangan berekspektasi lebih terhadapku -aku tetap manusia biasa yang punya salah, bisa salah, dan harus diingatkan jika salah- Ok?
Udah ga sabar mau baca??
Let it go, eehh salah maksutnya let’s go…
Eits, bentar-bentar. Aku mau ngasih penjelasan dikit ke kalian.
Dalam tulisanku kali ini ada tiga topik yang akan kuuraikan. Dari masing-masing topik sudah kupisahkan dengan memberikan judul diatasnya. Dengan begitu, memudahkan kalian untuk membacanya.
Yuk, sekarang udah boleh baca.
Happy reading
-Topik Pekerjaan-
Aku sengaja menempatkan topik pekerjaan diurutan pertama, karena ini merupakan topik termenarik untukku. Meskipun sekarang aku dalam posisi baru resign dari tempat kerja wkwkwk. Mungkin enggak usah basa-basi lagi yaa, kuy…
Semasa menempuh pendidikan tinggi kami berenam mengambil program studi dengan background “pendidik”. Dari enam orang -termasuk tuan rumah- ada dua teman yang bekerja tak sesuai dengan background pendidikan mereka. Ketika kita membahas hal tersebut, suddenly one of the two said “ilmu kita selama kuliah tak berguna”. Dia berkata begitu, tak pernah kusangka kalimat tersebut yang terlontar dari mulutnya -biar lebih mendramatisir aja makanya kutulis seperti itu wkwk-. Tapi, aku tak ingin menyalahkan dia karena beropini seperti itu. Bisa jadi itu hanya kalimat gurauan dan tak sengaja dia ucapkan. Emmm … meskipun sejujurnya ada sedikit perasaan sedih mendengar ucapan tersebut. But it's ok, I am fine .
Memang, pekerjaan dan background pendidikan yang tak linier menjadi momok generasi millenial saat ini. Banyak dari mereka bekerja dengan jabatan ≠ background pendidikan yang telah ditempuh.
Lalu, apakah pekerjaan yang tak linier dengan background pendidikan adalah hal salah?
Apakah ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan tidak berguna jika pekerjaan tak linier dengan background pendidikan?
Menurut kalian bagaimana?
………
Aku beropini tak ada yang salah. Pekerjaan yang tak linier dengan background pendidikan bukanlah suatu kesalahan. Lalu, pekerjaan yang linier dengan background pendidikan juga bukan hal paling benar. Semua benar, tak ada yang salah dan paling benar. Selama pekerjaan tersebut tidak merugikan diri sendiri dan tidak merugikan orang lain. Lebih jauh lagi pekerjaan tersebut bisa membawa keberkahan dan hal positif bagi diri sendiri ataupun orang lain.
Disisi lain pekerjaan juga bukan semata-mata untuk mencari rezeki saja. Tapi, pekerjaan juga merupakan sebuah amanah -pekerjaan selalu berhubungan dengan jabatan-. Than, amanah hanya diberikan kepada mereka yang mampu untuk mengemban tugas tersebut.
Dalam kitab suci agama Islam, Allah sudah berfirman “Dan tidak suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Hud, ayat 6). Menurut tafsir Kemenag, ayat tersebut menjelaskan tentang jaminan rezeki dari Allah SWT. Binatang-binatang melata yang hidup di bumi meliputi binatang merayap, merangkak, atau berjalan dengan kedua kakinya semua mendapat jaminan rezeki dari Allah SWT. Binatang tersebut diberikan naluri dan kemampuan untuk mencari rezekinya masing-masing. Semuanya sudah diatur dengan hikmat dan bijaksana oleh-Nya. Allah juga mengetahui tempat berdiam binatang-binatang termasuk tempat persembunyiannya. Bahkan ketika masih di dalam kandungan induknya. Pada kedua tempat itu, Dia senantiasa menjadi tempat rezekinya. Segalanya tercatat dengan rapi di Lauh Mahfuzh.
Lalu, jika binatang sudah Allah atur sedemikian baik rezekinya, bukankah itu berarti Allah telah mengatur rezeki manusia dengan sangat baik juga. Dimana tempat kalian bekerja, jabatan apa yang kalian emban, dan dibidang apa kalian bekerja Insyaallah semua sudah diatur Allah dengan sangat baik sesuai dengan kemampuan kalian.
………
Next, perihal ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan tidak berguna jika pekerjaan tak linier dengan background pendidikan.
Bagaimana opini kalian?
………
Opiniku, semua hal yang pernah kita alami dalam hidup adalah pengalaman berharga. Meskipun hanya sebuah kejadian sederhana dalam hitungan detik. Example, kalian tak sengaja melihat tetangga/teman/kenalan disuatu tempat. Tiba-tiba ada orang lain menanyakan keberadaan orang yang tak sengaja kalian lihat tadi. Bisa dipastikan kalian akan dapat menjawab dengan tepat pertanyaan orang tersebut. So, dari ketidaksengajaan melihat dan hanya berlangsung beberapa detik saja ternyata menjadi sesuatu yang bermanfaat. Mungkin bukan untuk diri kita, tapi paling tidak semua pengalaman adalah hal berharga -tak ada yang tak berguna-.
Kemudian, dalam UUSPN/2003 Bab II Pasal 3 dalam buku psikologi pendidikan karya Muhibbin Syah telah mejelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah "... bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berima dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab". Kesimpulannya, pendidikan yang dilaksanakan bukan hanya untuk memberi bekal keahlian disuatu bidang, tapi pendidikan juga memberikan bekal berupa pendidikan karakter bagi para peserta didik. Artinya, jika kalian bekerja dibidang yang tidak linier dengan background pendidikan, bukan berarti pendidikan kalian tidak berguna. Tapi, masih ada ilmu yang bisa diterapkan. Apa itu? That's right, pendidikan karakter yang kalian dapat selama menempuh pendidikan tersebut. Kalian yang bisa bekerjasama dengan rekan kerja -hasil belajar dari kerja kelompok-, kalian yang jujur dalam bekerja -hasil belajar dari jujur dalam mengerjakan ujian-, kalian yang disiplin -hasil belajar dari disiplin dalam mengerjakan tugas- serta contoh-contoh lainnya.
Emmm gimana gaes, pendidikan yang kalian tempuh berguna bukan?
………
Terakhir, obrolan dengan topik pekerjaan berakhir dengan membahas gaji.
Diantara kami berenam ada salah satu teman yang memperoleh gaji paling tinggi. Ketika aku mendengarnya, satu kata yang mewakili perasaanku "bersyukur”. Aku juga ikut bahagia mendengar hal tersebut. Karena kupikir dia pantas mendapat gaji dengan nominal sebesar itu. Alasannya, aku tahu dia mempunyai dua adik yang masih bersekolah. Lalu apa hubungannya? Maybe, Allah memberikan jalan agar dia berbakti pada orang tuanya. Salah satunya dengan meringankan beban biaya sekolah yang harus ditanggung orang tuanya -bukan aku menganggap orang tuanya tak mampu, aku yakin mereka sangat mampu- sebagai bentuk bakti kepada mereka. Tapi, perlu diingat juga ya "berbakti kepada orang tua bukan hanya dengan jalan materi saja". Bisa juga dengan waktu, tenaga, ataupun hal lainnya. Allah selalu memberikan segala sesuatu dengan sangat adil dan Allah juga memiliki jalan rezeki terbaik untuk semua hamba-Nya. Semua diberikan dengan cukup, tak ada yang kurang bahkan mungkin banyak lebihnya.
Jadi, syukurilah apapun pekerjaan dan berapapun gaji kalian. Selama keduanya diperoleh dengan cara yang benar. Tak harus dibandingkan dengan apa yang orang lain peroleh, karena hal tersebut hanya akan membuat kita lupa untuk mengucapkan syukur kepada Pencipta. Seperti yang tercantum dalam Surat Ibrahim ayat ke-7 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), pasti azab-Ku sangat berat”.”.
-Topik Pendidikan-
Pendidikan yang akan kubahas bukan tentang pengalaman pahit, manis, dan asam saat kami menempuh pendidikan. Tapi, pengalaman saat menempuh pendidikan dari salah satu teman yang dirasa menjadi pengalaman tidak menyenangkan dalam hidupnya. He said "aku sudah kapok, kuliah enggak lulus 8 semester" -dia menyelesaikan studinya agak lebih lambat-. I think, kata “kapok” yang ia ucapkan pasti hanya sekedar ucapan untuk menghibur kami. Tentunya, ada apresiasi juga dari dirinya untuk dirinya sendiri karena mampu menyelesaikan tugas akhir meskipun harus melewati beberapa kerikil hambatan.
Betulkan??
Terus menurut kalian, menyelesaikan studi agak lebih lambat hal yang salah atau tidak??
………
Menurutku menyelesaikan studi lebih dari 8 semester bukan suatu hal yang salah, dengan syarat hal tersebut tidak disengaja -seperti, sengaja malas-malasan-. Karena pada dasarnya manusia tidak hidup dengan keinginannya, tapi semua sudah diatur sebaik mungkin oleh Pencipta. Misal, jari kaki terluka karena tergores benda tajam dan kita ingin lukanya sembuh dalam hitungan detik. Sudah dipastikan itu hal yang mustahil bukan? Tentu butuh proses agar luka tersebut bisa sembuh, dan proses tersebut bukan kita yang mengendalikan. Kita hanya bisa mengusahakan saja dengan memberi obat, menutup luka, menjaga pola makan dsb. Kapan luka akan mengering dan bekasnya hilang sampai sembuh total semua diluar kendali kita.
Disisi lain, semua kejadian terjadi tepat pada waktunya. Kita tak bisa menolak, meminta penundaan, ataupun meminta dipercepat. Semua sudah diatur dengan baik oleh Pencipta.
Mungkin, studi yang selesai agak terlambat adalah hal yang terbaik untuk dia. Karena ada kebaikan yang disimpan untuknya. What is that? Ssssttt …. Dari hasil interview aku secara pribadi dengan narasumber hal terbaik yang sangat ia syukuri setelah kejadian tersebut adalah “Alhamdulillah diberikan kelancaran dalam mencari rezeki”- salah satunya, setelah wisuda ia tak membutuhkan waktu lama untuk memperoleh pekerjaan-.
Kalau menurut kalian gimana?? Mungkin punya pendapat berbeda dari aku??
………
Misal nih ya, kalian pernah ngalamin hal yang kurang menyenangkan kayak kejadian diatas. Kira-kira apa yang bakal kalian lakuin kalau inget kejadian tersebut?
Menggerutu?
Terus menyalahkan keadaan?
Merasa kecewa dengan diri sendiri secara berlebihan?
Atau gimana?
………
Jangan menggerutu, terus menyalahkan keadaan, dan merasa kecewa dengan diri sendiri secara berlebihan ya saat mengingat kenangan tak menyenangkan dalam hidup. Akan lebih baik melakukan evaluasi dan apresiasi untuk diri sendiri sebagai bentuk self love. Emang ada untungnya mengevaluasi dan mengapresiasi diri sendiri? Ada dong.
Dengan mengevaluasi diri sendiri kita akan menemukan kekurangan/kesalahan/kelemahan yang kita miliki sebagai modal berbenah untuk masa depan, agar hal yang sama dapat diantisipasi tidak terjadi lagi. Kalau apresiasi diri sendiri juga tak kalah pentingnya loh dari mengevaluasi diri sendiri. Seperti yang diucapkan oleh Michelle Obama "Ini adalah saat-saat yang menentukan kita. Bukan dihari saat kamu mendapatkan promosi. Bukan hari saat kamu memenangkan Guru tahun ini. Tapi saat-saat yang memaksamu untuk tetap gigih. Berjuang untuk lari. Saat-saat ketika kamu dijatuhkan dan kamu bertanya-tanya apakah seharusnya untuk bangkit lagi. Itulah saat-saat ketika kamu harus bertanya pada diri sendiri: Aku akan jadi siapa?". So, jika dalam keadaan sulit tapi memilih untuk menjadi tetap gigih, terus berlari, dan bangkit lagi bukankah hal tersebut patut untuk diapresiasi? Tentu saja jawabannya iya. Alasannya, karena sudah memilih bertahan dan tetap melangkah ke depan meskipun sulit.
Lalu perasaan menyesal boleh hadir atau tidak? Tentu boleh dong, tapi jangan sampai penyesalan membuat diri sendiri terjebak keterpurukan yang tiada hentinya.
Intinya, you are strong than you think.
Don't forget. Be smart, strong, and good
-Topik Cinta-
Kebetulan pertemuan kami pada hari itu untuk menghadiri undangan pernikahan dari tuan rumah -meskipun bukan di hari H acara hehehe-. Jujur aku turut bahagia dengan pernikahannya, belum lagi dengan sepenggal cerita darinya kalau “they married without dating”. Woow, speechless aku tuhh denger itu wkwkwk.
Pelajaran berharga yang bisa kuambil, mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengucap kata-kata cinta, kencan berdua, berkirim pesan 24 jam selama belum siap menikah. Tapi, lebih banyak mempersiapkan diri sendiri dan mengisinya dengan hal-hal positif. Sampai pada akhirnya mereka siap untuk dipertemukan dalam pernikahan. So sweet kan?
Pembaca ga boleh baper yaaa
“Saya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah”.
(HR. Ibnu Majah, shahih)
………
Dari kisah cinta bahagia mereka ternyata ada kisah yang berbanding terbalik dari salah satu teman kami. Why? dia yang semasa kuliah “have a relationship with a man” berakhir tak sampai pada ujungnya -pelaminan maksutnya gaesss-. Mungkin beberapa kalimat yang akan terlontar untuk dia adalah kasihan, sayang banget udah lama, harusnya kamu kejar dong, harusnya kamu pertahanin dong dan serentetan lainnya.
Tapi ternyata dia punya pandangan berbeda. Baginya apa yang hancur memang seharusnya hancur dan lebih baik hancur saat itu. Kok bisa? Apa dia ga kasihan sama dirinya sendiri? Apa dia pengen tahu rasanya sakit hati? Bukan dong yaaa. Lalu, kenapa?
Karena menurutnya manusia tak pernah tahu kejadian apa yang akan terjadi di masa depan. Tentu ada hal baik disetiap kebaikan atau musibah yang menimpa seseorang. Baginya, jika hancurnya hubungan berdampak baik dalam hidup untuk apa harus mengejar atau memaksa tetap bersama -bisa jadi quotes deh ini wkwkwk-.
“Tidak semua yang rusak harus kamu perbaiki,
terkadang menggantinya dengan yang lain itu akan
lebih baik untukmu.
Kamu tahu, tidak semua gelas kaca yang pecah
harus kembali direkatkan, sebab fungsinya pun
tidak akan sebaik dulu.
Ada saatnya kita harus mengganti pilihan”.
Disisi lain hancurnya hubungan tersebut juga dia anggap sesuatu yang tak bisa ia tolak. Jadi, kalau harus hancur, berpisah, dan pergi cukup dijalani saja. Pasti semua akan menemukan bahagianya masing-masing di detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang tepat. Kalaupun ada yang lebih dulu memperoleh kebahagiaan itu bukan suatu hal yang harus dipermasalahkan. Karena setiap orang punya jalan berbeda-beda. Harus ada yang sabar berhenti sebentar untuk memberikan jalan bagi orang lain dan ada yang harus cepat berlalu juga agar sosial distancing tetap diterapkan wkwkwk.
Contoh sederhananya, lampu lalu lintas di perempatan jalan. Agar pengendara bisa tertib, aman dan terhindar dari kecelakaan maka harus ada yang diberhentikan dengan menyalakan lampu lalu lintas berwarna merah. Tujuannya, untuk memberikan jalan bagi pengendara yang memperoleh nyala lampu lalu lintas berwarna hijau. Andai empat lampu lalu lintas di perempatan jalan menyala warna hijau semua sudah dipastikan para pengendara akan bertabrakan antara satu dengan yang lainnya. Jika menyala merah semua, malah jadi sesuatu yang tak masuk akal. So, semua sudah diatur dengan baik oleh sang Pecipta. Kapan seseorang bahagia dan kapan harus melapangkan dada untuk bersabar disituasi yang tidak nyaman.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui.
(QS. Al-Baqarah: 216)
………
Selesai……
Jujur, aku ga nyangka kalau tulisanku bakal sebanyak dan sepanjang ini. Enggak nyangka juga dapat inspirasi diluar dugaanku. Sampek dihubungin sama ayat Al Qur’an, nyantumin kutipan dari buku Muhibbin Syah, sepenggal kalimat inspiratif dari Ibu Michelle Obama, quotes dari Jundi -akun twitternya @jndmmsyhd- dan ucapan singkat dari Gading Marteen.
Setelah aku baca berulang-ulang rasanya masih jauh banget diri ini sama tulisan-tulisan yang kurangkai. Lebih tepatnya bukan karyaku, tapi my reminder. Insyaallah yaaa…
Buat kalian yang udah ngeluangin waktu buat baca tulisanku, aku ucapin terimakasih. Jazakumullah Khairan Katsiran.
Kalau ada kritik atau saran tulis aja di kolom komentar.
Sekali lagi aku ingetin ya, tujuanku bukan untuk menyalahkan atau membenarkan siapaun. So, kalau ada kata yang kurang berkenan dihati kalian aku minta maaf sebesar-besanya kalau ada kata yang benar jangan berekspektasi lebih terhadapku ya. Aku tetap manusia biasa yang punya salah, bisa salah, dan harus diingatkan jika melakukan kesalahan.
Bye … See you next time
Selalu ada pelajaran berharga dari setiap kejadian
Hanya harus membuka mata, pikiran, dan hati untuk bisa membacanya
Then, you will find the greatness of Allah SWT
………
Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Seluruh Alam
Hampir semua relate 🥲 Great job ambikaaa
BalasHapusmenarik sekali, semangat nulisnya ditunggu cerita lainnya
BalasHapus