Langsung ke konten utama

Pelajaran dari Perjalanan Hidup

Kulihat langit biru di H+2 idul fitri 1443 H terhampar luas pagi ini, tak ada lembaran awan putih yang menutupinya. Matahari yang sudah terbit sedari pukul 05.34 juga sudah menampakkan sinarnya dengan sangat sempurna. Terik, tapi tak menyengat. Aku yang saat itu berdiri di halaman rumah tersenyum mengingat suatu hal. Suatu peristiwa yang tak pernah terpikirkan akan menjadi bagian dari perjalanan hidupku. "Meskipun begitu aku yakin itu adalah ketetapan yang terbaik dari Allah SWT", gumamku dalam hati. 

Teringat peristiwa dimasa lalu mengingatkanku dengan tulisan yang sudah lama mangkir di draft postingan blog pribadi. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan tulisanku yang belum selesai di hari itu, sembari bersillaturrahmi dengan kerabat yang berkunjung ke rumah.  

Ooo iya, sebelumnya aku juga mengucapkan selamat hari raya idul fitri untuk kalian semua yaaa. Mohon maaf lahir batin untuk semua khilaf yang disengaja ataupun tidak disengaja. 🙏🙏

.......

Bicara tentang perjalanan hidup, kalau boleh tahu bagaimana perjalanan hidup kalian?

Menyenangkan?

Menyedihkan?

Penuh liku-liku?

Atau biasa-biasa saja?

........

Aku yakin jawaban kalian untuk pertanyaanku adalah "penuh liku-liku", kombinasi antara menyenangkan dan menyedihkan. 

Why?

Karena memang begitulah hidup, tak ada yang kekal. Kesenangan dan kesedihan tak akan berlangsung selamanya, semua datang silih berganti. Tapi, bagaimanapun perjalanan hidup yang kita lalui pilihan terbaik adalah menjalaninya dengan rasa syukur dan sabar. Karena Allah SWT selalu membersamai orang-orang yang bersabar, lalu dengan bersyukur maka Allah SWT akan menambah nikmat-Nya untuk kita, seperti yang sudah difirmankan dalam kita suci umat Islam. Eeemm, ini menjadi reminder tersendiri untukku.

Lalu....

Dari perjalanan yang berliku-liku terkadang ada beberapa peristiwa yang memberikan hikmah untuk diri sendiri atau bahkan bisa juga merubah hidup. 

Ooo iya, buat kalian yang ngerasa perjalanan hidupnya "biasa-biasa saja" yuk cari waktu sendiri dengan duduk di teras rumah sambil menikmati pemandangan jalanan yang ramai, langit yang terhampar luas, atau pepohonan tinggi. Biarkan fikiran bertualang membuka memori, untuk memahami hikmah berbagai peristiwa dari perjalanan hidup yang sudah dilalui. Bisa jadi jawaban kalian yang pada mulanya "biasa-biasa saja" berubah menjadi "Amazing", Insyaa Allah.

........

Tentang "peristiwa yang merubah hidup", membuatku teringat lagi dengan beberapa kisah orang lain.

Emmm ... Penasaran siapa mereka??

Yuk, langsung aja scroll ke bawah!

.........

Pertama, 

Kisah ini aku dengar dari dosen waliku semasa menempuh pendidikan strata-1. Singkat cerita beliau bercerita bahwa profesi merubah hidupnya. 

Emang bisa?? 

Bisa dong, kalau Allah SWT sudah berkehendak apapun bisa terjadi. 

Salah satu perubahannya, yaitu beliau yang awalnya terbiasa memakai pakaian ketat akhirnya berubah 100% menjadi perempuan yang mengenakan pakaian muslim. Dan hal tersebut bermula saat beliau menjadi pendidik di sekolah.

Ko bisa gitu?

Kurang lebih menurut penuturan beliau begini, saat mengajar di sekolah beliau tersadarkan suatu hal, bahwa menjadi pendidik bukan hanya perihal menyampaikan ilmu, tapi ada hal lain yang tak kalah penting, yaitu menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya. Dimana segala hal yang melekat pada guru -karakter, penampilan, etika, sosial dll- akan menjadi contoh bagi anak didiknya. 

Meskipun pengalamanku tentang pendidikan masih sangat sedikit, tapi aku sangat setuju dengan penuturan dosen waliku tersebut. Apalagi pendidik juga merupakan orang tua kedua saat di sekolah, dan sebagai orang tua tentu harus memberikan contoh baik untuk anak-anaknya. 

Waow, jadi reminder buat diri sendiri lagi nih.

........

Kedua,

Aku terkesan dengan film Merindu Cahaya de Amstel yang baru saja tayang di bioskop pada bulan Februari lalu. Film ini mengisahkan perjalanan hidup dan cinta segitiga seorang perempuan mualaf dari negeri kincir angin. Aku sempat menonton trailer film tersebut dari youtube dan instagram, tapi sayang tak bisa menonton filmnya di bioskop. But it's ok, aku sudah menontonnya di platform layanan streaming wkwk. "Tapi apapun yang terjadi, aku yakin memeluk Islam adalah keputusan terbaik dalam hidupku",  kalimat yang masih terngiang ditelingaku dari salah satu scene di film tersebut.

Selain menonton trailer dan filmnya, aku juga sempat membaca beberapa lembar tak sampai selesai novel Merindu Cahaya de Amstel dari sebuah situs. Ada satu kalimat yang mengesankan bagiku "Siapa yang bisa menduga seberapa jauh seseorang bisa berubah?". Ungkapan dari Marien Veenhoven, tokoh utama dalam novel dan film tersebut. Seorang perempuan non muslim yang memutuskan menjadi mualaf setelah melalui perjalanan panjang dalam proses pencarian jati dirinya. Perjalanan itu membawanya berkenalan dengan Islam, hingga ia memperoleh hidayah, kemudian memutuskan menjadi mualaf, mengganti namanya menjadi Khadijah Veenhoven, dan berpenampilan tertutup seperti wanita muslim lainnya. Menakjubkan sekali untukku. 

Tapi sayang, keputusannya untuk menjadi mualaf membuat ia kehilangan keluarga dan beberapa teman-temannya.

Berarti keputusannya menjadi mualaf adalah suatu hal yang salah dong??? Karena membuat dia kehilangan orang tua dan beberapa temannya.

Tentu saja jawabannya "Tidak".

Lalu?

Memang seperti itulah jalan yang harus di tempuh, saat kita berusaha kembali ke jalan Allah SWT akan ada jalan bebatuan yang menghadang. Hanya saja tujuannya bukan untuk menghalangi, tapi untuk mengetahui seberapa besar kesungguhan kita untuk kembali ke jalan yang Allah SWT ridhai. Sssttt .... Aku tahu hal tersebut dari tausiah ustadz di salah satu channel youtube.

.......

Ketiga,

Kisah menarik selanjutnya datang dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa. Memang novel ini sudah lama diterbitkan, tapi bagiku novel ini memiliki keistimewaan tersendiri untukku sampai sekarang. Aku yakin semua sudah tak asing dengan penulis sekaligus tokoh dalam novel tersebut, jadi tak perlu aku jelaskan yaaa.

"Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pecarian" kalimat di pagraf kedua bagian prolog dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa. Lalu diakhiri dengan kalimat "Membuat saya makin jatuh cinta dengan Islam". 

Bagaimana tidak jatuh cinta, perjalanan yang ditempuh bukan hanya sekedar menjalani hari-hari di negara orang. Tapi juga melakukan perjalanan untuk mencari cahaya kesempurnaan Islam. Mulai dari menapakkan kaki di Vienna, Paris, Madrid, Cordoba, Granada, Istanbul dan akhirnya sampai di Arab Saudi. Lalu pertemuannya dengan Fatma, Latife, Ezra, Oznur, Imam Hashim, Marion Latimer dan orang-orang lainnya juga memberikan cerita tersendiri untuk penulis. Dan titik akhir dari perjalanan tersebut adalah menemukan iman yang sesungguhnya, memahami kebesaran Pencipta secara nyata, dan memberikan hidayah kepada penulis untuk memakai hijab.

"Mengalah itu tidak kalah, melainkan menang secara hakiki" ucapan dari Fatma yang turut memberi pesan berharga bagi pembaca novel ini. Marion Latimer yang menunjukkan lafadz Lailahaillallah di kerudung Bunda Maria dari salah satu lukisan di museum Louvre Paris dan satu lagi, ia juga membagikan misteri dari Axe Historique -Voie Triomphale atau Jalan Kemenangan- yang ternyata dibangun lurus ke arah kiblat umat Islam oleh Napoleon sepulang melakukan ekspansi ke Mesir. Lalu ada Mesquita Cordoba yang berubah menjadi Gereja karena runtuhnya peradaban Islam di Andalusia. Ada juga Hagia Sophia yang mengalami kisah kebalikan dari Mesquita Cordoba, katedral yan berubah menjadi masjid -menariknya semua ornamen non muslim yang terukir di dinding Hagia Sophia tak ada yang dihilangkan, tapi justru di sandingkan secara apik dengan ornamen muslim-. 

Bagiku beberapa kisah tersebut sangat menarik dan juga memberikan kesan tersendiri untukku. Lebih jauh lagi, aku juga baru memahami arti "Iqra" -bacalah- secara gamblang dalam Surat Al-Alaq setelah membaca novel ini. Kukira perintah membaca dari Allah SWT tersebut hanya memiliki arti membaca buku ataupun kitab, tapi ternyata lebih dari itu, yaitu membaca kebesaran-Nya melalui alam semesta ini. 

.........

Emm... Setelah menuliskan kisah diatas aku merasa sangat setuju dengan kalimat "hidup itu misteri". Tak ada yang pernah tahu apa dan bagaimana perjalanan hidup hari ini, esok, dan masa depan. Lalu apakah perjalanan tersebut akan membawa seseorang menjadi lebih baik atau sebaliknya, tak ada yang pernah tahu. Tapi, bagaimanapun itu semoga perjalanan hidup yang kita lalui selalu mendekatkan diri kepada  Pencipta yaa aamiin...

Sekian dan terimakasih sudah membaca tulisanku. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan di hati kalian. 

Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian aamiin.

See you next time 😃

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My First Post

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Hallo teman-teman, selamat datang di blog baruku. Di postingan pertama kali ini aku ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Langsung saja ya... Namaku Ambika, aku seorang muslim dan aku baru saja menamatkan pendidikan pada jenjang S1 di salah satu universitas yang berlokasi di pulau Madura. Ketertarikanku membaca pengalaman orang lain yang dituangkan lewat tulisan-tulisan dalam blog, membuatku tertarik untuk mencoba menjadi blogger. Jadi, di blog ini aku akan berbagi pengalaman singkat yang pernah aku alami, dengan harapan bisa bermanfaat bagi kita semua. Cukup sampai disini mungkin perkenalannya. Mohon maaf bila ada salah kata. Buat teman-teman dan juga senior blogger mohon dukungannya ya. Terutama kritik maupun saran yang membantu lebih baik untuk kedepannya. So tungguin postingan aku selanjutnya Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Cerita Siang sampai Sore

Siang itu selepas salam salat dzuhur mataku terasa berat. Kuputuskan untuk langsung tidur diatas sajadah dengan masih mengenakan mukena dan hati yang bergumam "ga usah dzikir dan doa ah nanti pas salat ashar kan masih bisa.  Akupun tertidur. ... Pukul 14.30 adzan ashar berkumandang, aku yang masih mengerjakan tugas memilih untuk menunda salatku, karena sebentar lagi tugas tersebut akan terselesaikan.  Tiba-tiba ada suara anak kecil memanggilku dan mengatakan "Mbak disuruh ke rumah sama ibuk, suruh bantuin anter makanan", kujawab "Iya, tapi aku masih mau mandi dulu. Terdengar dia menjawab "Gapapa, ditungguin". ... Tugasku sudah selesai dan aku segera ke kamar mandi. Selesai mandi aku bergegas untuk salat ashar. Sembari memakai mukena hatiku bergumam "aku sudah ditungguin, kalau aku selesai salat masih dzikir dan doa pasti kelamaan dan nanti kesorean".  Aku segera melaksanakan salat ashar. Dan selepas salat aku meninggalkan dzikirku, hanya menyempa...