Siang itu selepas salam salat dzuhur mataku terasa berat. Kuputuskan untuk langsung tidur diatas sajadah dengan masih mengenakan mukena dan hati yang bergumam "ga usah dzikir dan doa ah nanti pas salat ashar kan masih bisa.
Akupun tertidur.
...
Pukul 14.30 adzan ashar berkumandang, aku yang masih mengerjakan tugas memilih untuk menunda salatku, karena sebentar lagi tugas tersebut akan terselesaikan.
Tiba-tiba ada suara anak kecil memanggilku dan mengatakan "Mbak disuruh ke rumah sama ibuk, suruh bantuin anter makanan", kujawab "Iya, tapi aku masih mau mandi dulu. Terdengar dia menjawab "Gapapa, ditungguin".
...
Tugasku sudah selesai dan aku segera ke kamar mandi. Selesai mandi aku bergegas untuk salat ashar. Sembari memakai mukena hatiku bergumam "aku sudah ditungguin, kalau aku selesai salat masih dzikir dan doa pasti kelamaan dan nanti kesorean".
Aku segera melaksanakan salat ashar. Dan selepas salat aku meninggalkan dzikirku, hanya menyempatkan berucap doa singkat.
...
Aku bergegas pergi ke rumah anak kecil yang tadi memanggilku. Dalam perjalanan aku memikirkan peristiwa yang baru saja kualami. Aku tersadarkan "Ternyata menunda juga sama dengan menyia-nyiakan waktu, meninggalakan dzikir dan doa dengan mengutamakan tidur karena mata yang terasa berat juga sudah sama dengan menyia-nyiakan waktu. Menunda dan merasa masih ada waktu nanti, masih bisa dikerjakan nanti, dan masih ada kesempatan nanti. Padahal diri sendiri tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada detik, menit, jam ataupun hari nanti."
Semangat kaaaak..
BalasHapusDitunggu tulisan inspiratif selanjutnya 😍